Sabtu, 17 Januari 2009

HEY SENORITA!!


EKSOTISME semenanjung Catalan tidak pernah surut dalam pentas mode dunia. Mulai dari gemulai penari flamenco sampai gaya el matador.Spanish style sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia mode. Kenakan rok tumpul dengan atasan kemeja putih kerut, voila! You got the look! Tercatat dua desainer Indonesia yang mengangkat gaya Spanyol dalam koleksi busana mereka. Adalah Ari Seputra yang "tersentuh" Spanish style hingga melansir koleksi bertajuk "Touche". Busana ultra feminin hadir dalam empat babak, dimulai dari penampilan sang penari flamenco. Rancangan blus, rok, celana, dan gaun padu-padan ditata ringan dengan menggunakan bahan satin, organdi, sifon, jacquard, dan renda. Gaya rancangan yang sederhana diperindah dengan detail yang berupa lipit-lipit, bunga besar, gelepai, serta koncer (tassel).Kecantikan sang senorita ditampilkan dalam gaun cocktail yang berupa rok lebar klok, rok span, dan blus bergaya tahun 1940-an. Warna merah dipadukan dengan krem dan keemas-emasan pada bahan jacquard. Detailnya berupa kelopak bunga yang dijahit satu per satu di atasnya.Puncaknya, pada malam gala, model tampil dalam balutan gaun terbaik, detail rok tumpuk ala penari flamenco. Warna yang digunakan lebih gelap yaitu hitam, abu-abu, dan sedikit ungu. Jika biasanya desainer menghindari pemakaian bahan beludru, tidak dengan Ari. Dia mencoba mengolah beludru menjadi sebuah gaun malam yang cukup elegan.Kaya dalam pilihan bahan juga detail. Fashionista sudah tahu betul di mana point of interest busana bergaya Spanyol. Ada pada sulaman yang begitu cantik nan rumit. Namun, Ari berusaha menyempurnakan bentuk sulaman agar kecantikan gaunnya kian sempurna.Sulam yang khas pada busana Spanyol, sudah tentu bordirannya. Ini pula yang banyak digali oleh Ari. "Spanyol punya gaya Portugis juga dan banyak embroidery (bordir). Ketika saya mencari inspirasi, yang pertama kali saya buka adalah buku matador. Gila nih, embroidery-nya bagus banget. Kita kan jago di bordir," ujar Ari.Hal senada diucapkan oleh Malik Moestaram. Desainer asal Bandung ini memiliki tema besar "Porto de La Viva". Malik pun terinspirasi oleh busana matador, yang lebih menonjolkan maskulinitas. Uniknya, dia menelaah persamaan gaya busana matador dengan Indonesia . "Busana matador enggak jauh sama Sunda, karena baju mereka banyak dibordir. Kayak orang Padang juga, ada banyak sulam emasnya," tutur Malik.Sumber daya manusia Indonesia juga tidak kalah apik dalam menciptakan aplikasi sulam maupun bordir. Hanya, tidak sah sebagai desainer jika belum bereksperimen bukan? Malik banyak menggunakan bahan metal untuk mempertegas karakter profil busana, juga mengisi aplikasi bebatuan secara lebih menonjol. Detail semacam payet dan swarovski dihindari. Namun, keberadaan motif maupun bordir bunga tidak bisa ditawar-tawar. "Saya senang perempuan berpenampilan "gagah". Maksudnya, dia pakai baju terlihat lebih gagah. Perempuan berpakaian maskulin bisa tetap tetap tampil feminin. Triknya, dengan memilih warna-warna terang. Jadi, meski bentuknya square atau tegas, non layering, namun tetap manis," papar Malik. Atasan jaket atau oversized bolero dengan sulaman cantik, kemeja putih mengkilap diberikan pemanis bentuk pita atau lipit, dipadukan celana turquoise atau merah. Ada pula body suit bermotif floral dengan jaket matador biru sulaman emas. Mini dress maupun maxi dress menjadi lebih "tough" karena memiliki aplikasi metal atau bebatuan. Feminitas dan maskulinitas yang ditawarkan dua desainer ini dapat menjadi referensi dalam berbusana. Sungguh tidak ada yang baku dalam mode. Adalah kreativitas dan orisinalitas karakter kita yang banyak berperan.

0 komentar:

Posting Komentar